Kita harus terus berjuang

Hidup kita di dunia ini dilahirkan diatas rel perjuangan. Perjuangan untuk memenuhi hak-hak orang lain. Perjuangan untuk hidup di atas jalan yang lurus. Perjuangan untuk melawan godaan hawa nafsu. Perjuangan untuk mengejar kehendak dan cita-cita. Termasuk, perjuangan untuk menyambung hidup sendiri, dengan nafas-nafas dunia dan pengharapan kepada hari esok.

Setiap dari kita mempunyai cara tersendiri untuk hidup. Itu tidak menjadi soal. Di jalan-jalan yang keras, dikantor yang megah dan sejuk, di tengah samudera yang bergelombang maupun di dalam lorong pertambangan yang mencekam, setiap hari, setiap waktu, setiap orang menyambung nafas-nafas kehidupannya. Ada berjuta cara untuk hidup. Tetapi, perjuangan hanyalah sebuah kosakata untuk hidup dengan cara yang lurus. Perjuangan hanyalah bahasa untuk pengorbanan yang benar. Maka, menyambung hidup dengan cara kotor, licik, dan kerdil, sama sekali bukanlah sebuah perjuangan. Sampai kapanpun, bila hiidup secara kotor akan lebih melelahkan dan lebih memakan pengorbanan.

Hidup adalah perjuangan, dalam konteks dunia maupun akhirat, dalam kepentingan agama maupun kepentingan kemanusiaan. Membangun sarana pendidikan adalah sebuah perjuangan, mencari nafkah, menyantuni anak yatim, mendirikan tempat pengobatan gratis maupun meninggikan syiar agama adalah sebuah perjuangan.
Perjuangan pun tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah sebuah perjuangan. Jadikan perjuangan itu sebuah nafas dan naluri kehidupan kita setiap hari. Dan..kita memang harus berjuang, karena disanalah habitat kemanusiaan dan keimanan kita. Karena disanalah tempat kita menabung, untuk dipanen anak cucu kita sebagai sebuah amal kebaikan, atau kita panen sendiri di hari esok kelak.